Menentang Perang Baru di Iran, Menentang Perdamaian yang justru Membuka Jalan bagi Perang

Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada tanggal 28 Februari 2026 merupakan kelanjutan dari apa yang di-sebut “Perang 12 Hari” pada Juni 2025, ketika Israel menyerang Iran dengan bantuan Amerika Serikat. Pada fase perang tersebut, rezim Zionis melancarkan serangan, sehingga memperparah situasi dan membatasi segala skenario penyelesaian “ringan” terhadap isu-isu yang belum terselesaikan mengenai negara Iran, seperti program nuklirnya. Perang Juni sebenarnya membentuk kerangka dan konteks politik untuk mempersiapkan dan memicu “episode” saat ini, yang mencakup sebagian besar ambisi koalisi Amerika-Israel. Berdasarkan doktrin “perang pencegahan”, yang diumumkan sejak awal 2025 oleh negara Israel dengan dalih membenarkan operasi militernya atas nama bahaya dan ancaman yang terukur (dan tidak dimanifestasikan)

Perang yang meletus pada 28/2, berusaha membentuk peta geopolitik baru di kawasan Timur Tengah yang lebih luas. Di puncak prioritas mereka adalah menggulingkan rezim Iran, sehingga bahaya bagi Israel yang berasal dari negara-negara tetangganya dapat sepenuhnya d ieliminasi. Tidak lama lalu, Iran merupakan pilar dari apa yang di-sebut “poros perlawanan” melawan tujuan Israel dan AS. Selain tujuan bersama tersebut, kedua negara sekutu ini dapat membangun kepentingannya di kawasan yang lebih luas, mengingat negara-negara Arab (pada berbagai tingkatan) telah menandatangani perjanjian dengan Israel (sambil menjalin kerja sama erat dengan AS) dan secara praktis tunduk pada ambisinya.

Perang saat ini melawan Iran dan serangan militer di Lebanon terhadap Hizbullah yang pro-Iran mungkin merupakan mata rantai terpenting dalam rangkaian tindakan agresi yang dilakukan Israel selama dua setengah tahun terakhir di kawasan yang lebih luas. Selama periode ini, rezim Zionis telah melancarkan operasi militer bergaya polisi di Lebanon, Iran, Suriah, dan Yaman, serta genosida terhadap Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat, di mana Israel telah menduduki 52% dan 83% dari kedua wilayah tersebut masing-masing. Pada saat yang sama, dengan menyerbu Lebanon dan dengan dalih demiliterisasi di bagian selatan wilayah Lebanon, Israel sebenarnya memperluas perbatasannya ke utara. Pendudukan wilayah serupa telah terjadi sebelumnya di selatan Suriah.

Si vis pacem, para bellum. Jika kamu ingin perdamaian, bersiaplah untuk berperang.

Operasi perang baru ini terhadap Iran merupakan momen krusial, karena yang jelas adalah bahwa retorika klaim hukum internasional telah ditinggalkan selamanya, dan yang mendominasi adalah kekuasaan. Negara Israel sejak awal telah menyatakan bahwa mereka ingin segera mengeliminasi bahaya Iran, sementara AS dengan cepat meninggalkan retorika “bahaya dari program nuklir Iran” (yang konon telah mereka hancurkan selama perang musim panas saat mereka merayakannya) dan mulai berbicara kembali dengan bahasa lama dan sudah-biasa digunakan seperti “anti”-terorisme dan keamanan. Bukan kebetulan bahwa keduanya secara sistematis menyebut Iran sebagai “negara-pengacau” yang mengekspor terorisme tidak hanya ke Timur Tengah tetapi juga ke seluruh dunia.

Dalam konteks ini, perang melawan Iran bertujuan untuk mengubah akses ke sumber daya energi yang melimpah di wilayah tersebut dan mengembalikan situasi ketika AS, melalui kudeta rezim Shah sebelumnya pada 1953, secara praktis mengendalikan cadangan minyak Iran sebelum perubahan yang dibawa oleh Revolusi Iran pada 1979 dan pendirian rezim teokratis Syiah. Dengan cara ini dan dengan tujuan internasional jangka-panjang, AS berusaha menimbulkan kerugian komersial dan finansial terhadap negara Tiongkok yang sebelumnya memasok 80% minyak Venezuela sebelum serangan AS dan operasi “seperti polisi” untuk menangkap presidennya, Maduro. Dengan cara ini, AS berusaha memperoleh keunggulan terhadap negara Tiongkok yang mereka anggap sebagai kompetitor utama mereka di planet ini.

Pada saat yang sama, tujuan politik internasional juga sedang diupayakan. Menjatuhkan rezim di Iran akan menjadi contoh lain dari tujuan AS yang diungkapkan oleh pejabat tertinggi mereka (mulai dari Menteri Luar Negeri Rubio di Dewan Keamanan PBB baru-baru ini hingga pidato-pidato konstan Trump). Tujuan-tujuan ini menandakan kepatuhan total terhadap perintah NATO di bawah kepemimpinan AS. Dalam konteks yang sama terdapat pemaksaan ideologis supremasi tipe manusia Barat kulit putih serta penerapan dan “ekspor” model kultural dan negara Barat.

Fase baru perang di Iran ini terjadi setelah pemberontakan yang baru-baru ini dilancarkan oleh sebagian besar rakyat Iran terhadap rezim teokratis di negara mereka. Sebuah pemberontakan yang awalnya dipicu oleh kondisi keuangan yang sangat sulit akibat pemberlakuan sanksi keuangan dari luar negeri, menyusul perlawanan dan pemberontakan yang meluas sebelumnya. Sanksi adalah alat politik semacam perang, yang tidak hanya menimpa negara dan perekonomian nasionalnya, tetapi juga basis sosial itu sendiri, sehingga membuat penduduk menjadi miskin, dan bahkan dapat menggulingkan rezim. Hal yang sama terjadi di Venezuela dan akan segera terjadi di Kuba. Pemberontakan di Iran dengan cepat memperoleh karakteristik yang lebih luas, berisi konten anti-rezim, dan posisi utama yang diungkapkan oleh sebagian besar para demonstran adalah menentang baik rezim penindas maupun “pembebas” Amerika-Israel. Pemberontakan ini ditekan oleh negara Iran melalui pembantaian yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan ribuan orang tewas. Yang jelas adalah bahwa suara-suara yang membela para demonstran dari Barat (terutama AS) hanyalah dalih belaka, dan retorika mereka tentang “kebebasan” hanyalah omong kosong. Otoritas (baik internal maupun eksternal) tidak tertarik pada rakyat dan tuntutan mereka, melainkan hanya memanfaatkan situasi apa pun untuk keuntungan mereka sendiri. Sejarah intervensi AS di Iran, sejak tahun 1950-an hingga kini, telah membuktikan hal tersebut.

Melanjutkan pembahasan di atas, yang harus ditegaskan secara mutlak adalah bahwa rezim Iran tidak ada hubungannya dengan kebebasan rakyat, meskipun ia melawan kepentingan Barat dan menjadi musuh bagi mereka yang menyerang. Sekalipun intervensi imperialis sedang berlangsung oleh aliansi AS-Israel, menentang intervensi tersebut tidak memiliki muatan liberasional jika hanya berputar pada perspektif anti-imperialis semata. Menentang perang dan serangan militer terhadap Iran tidak berarti membela rezim yang berkuasa, melainkan berarti menentang negara-negara dan aliansi mereka secara keseluruhan dengan tujuan pembebasan individu dan sosial.

Perang terjadi di segala tempat, musuh kita berada di sini

Dalam situasi ini, negara Yunani bukanlah pihak yang pasif atau “netral” seperti yang diklaimnya. Ia merupakan peserta aktif dalam perang ini, dengan orientasi memperkuat statusnya dan melayani kepentingan sendiri. Negara Yunani secara terang-terangan berpartisipasi dengan menyediakan pangkalan NATO yang tersebar di wilayah Yunani, mendistribusikan senjata dan peralatan militer, serta mengerahkan pasukannya di luar perbatasannya (ya, Siprus adalah wilayah luar negeri, meskipun nasionalisme Yunani mungkin mengklaim sebaliknya). Pada saat yang sama, negara Yunani berusaha menciptakan fakta yang sudah jadi terkait apa yang di-sebut “antagonisme Yunani-Turki” dengan menempatkan serangkaian rudal Patriot di pulau Karpathos, sementara negara Turki, berdasarkan politik dan tujuan nasionalisnya sendiri, menuntut demiliterisasi pulau-pulau di Laut Aegea. Secara internal, negara Yunani terus-menerus berusaha meningkatkan nasionalisme, militerisme, dan patriarki untuk menundukkan penduduk. Dalam arah yang sama (di samping koalisi Yunani-Siprus-Israel di tingkat pusat), dapat dilihat dalam diskursus publik bahwa “negara Israel dan rakyatnya” terus dipuji oleh pejabat, perwira militer, analis militer, dan jurnalis, dalam arti bahwa negara tersebut telah berjuang selama puluhan tahun dan menjadi contoh kesiapan tempur yang konstan untuk menghadapi keadaan darurat yang permanen. Kami, dari pihak kami, akan terus menentang negara Yunani dan tentara nasionalnya sebagai pengkhianat nasional.

Kami tidak berpihak pada polisi dunia maupun despotisme lokal. Baik terhadap AS-Israel maupun para Mullah. Selalu melawan negara-negara dan para bos. Selalu di pihak yang tertindas, para pemberontak, para perusuh, dan rakyat yang berjuang. Kami tidak sejalan dengan negara dan kepentingan nasionalnya. Kami tidak tunduk pada militerisme dan ideologinya. Kami tidak hanya harus menentang perang, tetapi juga menentang kondisi umum negara Yunani (dan tidak hanya Yunani) yang mempersiapkan diri untuk perang. Menentang realitas mengerikan “damai” kapitalis.

Menjadi musuh internal

Solidaritas bagi mereka yang terdampak perang dan bagi mereka yang menentang perang

Bukan perang nasional, bukan perang agama, perang kami adalah perang kelas

Desertir dalam perang mereka, penyabot dalam perdamaian mereka

Anarchists’ Assembly Against the Self-Evident Foundations of the Power Regime

Sumber