.pdf (bahasa Yunani)
11 Nov ‘25
Sekali lagi, “Dunia Baru yang Berani” para penindas kita hancur berkeping-keping di hadapan mata mereka sendiri. Prancis, Indonesia, Nepal. Gambar-gambar penuh amarah. Demolisi sebuah “kastel” yang mereka coba yakinkan kita takkan pernah runtuh.
Antiviolence: Respons Basis Sosial terhadap Otoritas
Dari Prancis hingga Indonesia dan Nepal, basis sosial memberontak melawan kondisi hidup yang menyedihkan, kekerasan sehari-hari dari para bos (baik kiri maupun kanan), dan polisi. Negara dan kapital menjadi sasaran. Di Nepal, Parlemen dibakar. Wakil Presiden dan Menteri Keuangan, Bharat Paudel, menghadapi amarah rakyat. Dunia yang merampok masyarakat setiap hari untuk memperkaya diri dan memaksakan dominasi mereka. Rakyat memblokir jalan lingkar di sekitar Paris, jalan tol perkotaan tersibuk di Eropa, serta stasiun kereta api, dan terjadi bentrokan dengan polisi. Sebelumnya, protes kekerasan meletus di California menentang penculikan massal dan deportasi imigran.
Dengan Hoodies atau dengan Dasi
Media massa domestik, berkooperasi dengan seluruh spektrum politis, menunjukkan bagaimana mereka menyajikan peristiwa sesuai agenda mereka pada setiap waktu. Saat ketidakstabilan sosial, judul-judul berita tentang urusan luar negeri dihiasi dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas.
“Pemberontakan rakyat di Prancis,” “Generasi Z menjelaskan dirinya sendiri.” Begitu peristiwa yang sama terjadi di Yunani, esensinya seolah berubah… “Agen rahasia, provokator, agen pemerintah”, dan tuduhan-tuduhan lain meluncur dari mulut jurnalis tentang para pemberontak yang bentrok dalam demonstrasi dan protes di kota-kota Yunani. Dengan kata lain, mereka berusaha mendemonisasi perlawanan sosial, takut akan iklim pertanyaan yang meluas terhadap dominasi mereka.
Keadilan Berada di Pihak para Insurgen
Jadi, kita menyimpulkan bahwa insurgensi individual bukanlah dongeng indah yang kita ciptakan.
Dari bentrokan kecil dengan polisi di Exarchia hingga bentrokan luas di pusat Athena, hasrat akan kebebasan eksis dalam diri kita. Mari abaikan media arus utama dan media sosial yang mencoba mencegah kita memahami realitas. Mari bentrok dengan binatang buas.
Setiap individu, setiap kelompok afinitas, setiap kolektif memiliki kekuatan.
– Majelis Anti-Otoritarian Universitas Panteion Athena
